Banyak orang masih bingung memilih tempat menyimpan atau meminjam uang. Bank umum memang punya nama besar, tapi bunga bank BPR sering kali lebih menarik. Kedua jenis bank sama-sama memiliki peran penting dalam sistem keuangan Indonesia. Memahami perbedaan bunga dan layanannya akan membantu setiap orang mengambil pinjaman yang sesuai dengan kebutuhan.
Perbedaan Bunga Bank BPR dan Bank Umum
Salah satu keunggulan utama BPR adalah suku bunga simpanan yang lebih tinggi. Lembaga Penjamin Simpanan menetapkan batas bunga penjaminan untuk bank umum sebesar 3,75 persen per tahun. Sementara itu, batas bunga penjaminan untuk BPR ditetapkan lebih tinggi, yaitu 6,25 persen per tahun.
Dalam praktiknya, banyak bank umum besar menawarkan bunga tabungan harian yang sangat rendah. Kisarannya hanya sekitar 0,5 persen hingga 2 persen per tahun. Beberapa bank digital baru menawarkan bunga lebih kompetitif, tapi masih di bawah level bunga bank BPR.
BPR seperti BPR Satya menawarkan bunga tabungan mulai dari 2 persen hingga 4 persen per tahun. Produk tabungan premium di BPR bisa mencapai 4 persen, jauh di atas rata-rata bank umum konvensional. BPR Anugerah Paktomas bahkan menawarkan bunga tabungan hingga 5 persen per tahun.
Untuk produk deposito, selisihnya semakin terlihat jelas. Bunga deposito BPR umumnya berkisar antara 4,25 persen hingga 6,5 persen. Sementara deposito bank umum besar seperti BCA, BNI, atau Mandiri biasanya hanya memberikan bunga 2,25 persen hingga 3,5 persen.
Bunga Kredit Bank UmumĀ
Bank umum umumnya menawarkan bunga kredit yang jauh lebih rendah. Kredit Pemilikan Rumah di bank besar bisa didapat dengan bunga mulai 7 persen hingga 10 persen per tahun.
BPR cenderung menetapkan bunga kredit lebih tinggi. Kisaran bunga pinjaman di BPR biasanya antara 12 persen hingga 20 persen per tahun. Beberapa BPR bahkan mengenakan bunga kredit hingga 22 persen untuk segmen tertentu.
Perbedaan ini karena BPR memiliki biaya dana yang lebih mahal. Mereka harus membayar bunga tinggi kepada deposan, sehingga otomatis bunga pinjaman juga lebih besar. Selain itu, BPR melayani nasabah dengan profil risiko lebih tinggi seperti pelaku UMKM dan petani.
Bank umum memiliki akses ke sumber dana yang lebih murah. Mereka bisa menghimpun dana dari giro korporasi, pasar modal, dan likuiditas dari Bank Indonesia. Fleksibilitas ini memungkinkan bank besar menekan suku bunga kredit hingga level terendah.
Keamanan Simpanan di Bank BPR
Sebagian orang masih meragukan keamanan menyimpan uang di BPR. Padahal simpanan di BPR dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan dengan batas maksimal Rp 2 miliar per nasabah per bank. Ketentuan ini sama persis dengan perlindungan yang diberikan kepada nasabah bank umum.
Agar tetap aman, nasabah perlu memastikan BPR pilihannya terdaftar dan diawasi oleh OJK. BPR yang menjadi peserta LPS akan menampilkan logo LPS di kantornya. Dana yang disimpan di BPR tidak terjamin jika suku bunganya melebihi batas yang ditetapkan LPS.
Bunga bank BPR lebih tinggi untuk produk simpanan dibandingkan bank umum. Sementara untuk kredit, bank umum menawarkan suku bunga yang lebih ringan. Pilihan terbaik bergantung pada kebutuhan masing-masing individu.
